Bagaimana bisa?

Sekarang aku tahu ya Tuhan.

Hari ini,

Setahun yang lalu,

Kau mengijinkanku menyerah atas hubungan kami.

 

Bagaimana bisa perasaan ini berulang setelah setahun lamanya waktu berjalan?

 

Ah Tuhan.

Becanda-Mu sungguh kreatif.

Kau pasti ingin membuatku tersenyum. :)

 

Love You so much, Lord. :)

Aku merindukan……

Rasa sakit itu kembali terulang.

Ya, sakit di sini.

Di hatiku.

Jantungku berdetak cepat.

Seketika aku sulit bernafas.

Kembali air mata itu menetes.

 

Kenapa Tuhan?

Kenapa tanpa sebab musabab kau ijinkan aku mengalami ini lagi?

Tidakkah cukup waktu yang kujalani untuk berusaha tegar?

Tangguh setegar karang.

Wanita tangguh.

 

Tidak!

Kau tidak tangguh.

Kau karang yang rapuh!

 

Apa kabarmu sekarang?

Egoku hancur seketika.

Di hadapan-Nya dan di hadapanmu (jika kau sadari)

 

Ingin rasanya menyapamu.

Tapi pikiranku ini berhasil mencambuk perasaan yang sudah dibutakan.

Aku harus bertahan.

Tak mungkin kata-kata itu ditarik kembali ke asalnya.

Seolah tak pernah terucap.

Tidak.

Aku harus bertahan.

 

Ini yang terbaik?

Entahlah.

Pikirku tak sampai untuk menentukannya.

Aku serahkan pada Dia yang memimpin hidupku.

 

Semoga kau baik-baik saja.

Di mana pun engkau.

Semoga Dia, pemilik hidupmu juga, menyertaimu senantiasa.

Berbahagialah dengan hidupmu.

Doaku menyertaimu.

 

Satu hal saja yang ingin kuucap.

Satu hal saja.

 

Aku merindukanmu…

James 1:2-4

“Consider it pure joy, my brothers and sisters, whenever you face trials of many kinds, because you know that the testing of your faith produces perseverance. Let perseverance finish its work so that you may be mature and complete, not lacking anything.”

Engkau Mendengar

Bagaikan emas yang murni janji-Mu ya Tuhan…

Takkan ku takut menghadapi semua badai hidup

T’lah kulihat perbuatan-Mu ajaib

Rencana-Mu indah dalam kehidupanku

Engkau mendengar seruan hati yang hancur di hadapan-Mu

Engkau menakar air mataku yang haus akan kasih-Mu di Kirbat-Mu

Bagai pedang yang tajam Firman-Mu ya Tuhan

Takkan kulepas selamanya

Kuikat di pinggangku

Biar langit goncang dan bumi berlalu

Namun setia-Mu selamanya…

_________

thanks Bobby for writing this lovely song… :)

Sungguh-sungguh

Semangat itu bangun ketika jatuh “lagi”
Itu bukan semangat hanya ketika semua baik-baik saja, ketika keadaan memampukanmu tetap tegak dan bangun.
Semangat yang sungguh-sungguh terjadi saat kau tetap mampu bangun walau jatuh “lagi”.

Sukacita itu perasaan bahagia utuh bahkan saat keadaan membuatmu tidak mampu bersukacita.
Ketika kau berada di situasi tidak nyaman, harus belajar keras, bekerja keras, melayani, dsb. Meski berat dan melangkah dari kenyamananmu, kau mampu bersukacita.
Itu sukacita sungguh2 ketika kau mampu bahagia bahkan di tengah penderitaan sekalipun.

Bersyukur itu keadaan menerima dengan sukacita apa yang Tuhan ijinkan terjadi dalam hidup, menilai pemberian Tuhan itu sebagai anugrah.
Itu bukan bersyukur kalau kau hanya bisa bersyukur saat semuanya baik-baik saja.
Semua org bisa bersyukur saat keadaan mudah, enak, menyenangkan.
Tapi bersyukur sungguh-sungguh adalah ketika semua keadaan tidak sesuai dengan harapan, kau tetap memandang Tuhan dan bersukacita dgn keadaan itu.

Berharap itu berserah penuh menanti pertolongan Tuhan pada waktu dan saat yang tepat menurut rencana-Nya.
Kalau kau berharap ketika kemungkinan besar keadaan yang kau harapkan akan terjadi, biasa saja.
Itu berharap sungguh-sungguh saat kau tidak tahu lagi apa yang akan terjadi esok, tapi kau tetap percaya pertolongan Tuhan akan indah pada waktu-Nya.

Ya, seringkali kau tidak bersungguh-sungguh.
Semua orang bisa melakukan yang “biasa saja”.
Tapi seharusnya yang membedakanmu dari orang lain adalah kau mampu melakukan hal yang baik dengan “sungguh-sungguh”, bukan “biasa saja”.

Learning God from him

Waktu-waktu belakangan ini, aku sering dilanda ketakutan dan kekhawatiran luar biasa… Bahkan merasa tidak bisa lg melakukan self encouraging. Yg ada : “kamu bodoh, masa gitu aja kamu ga bisa, kamu harusnya kayak dia, dsb.”

Hari ini, bahkan udah beberapa kali di hari2 sebelumnya, dia selalu mengingatkan aku. Membuka mataku supaya aku sadar.

“Kamu itu punya potensi, Ro… Potensi dlm dirimu itu besar. Dgn potensi itu aku yakin kamu bisa melewati ini. Tapi kalo dengan POTENSI PLUS KETAKUTANMU, aku sendiri jd ragu kamu bisa atau tidak.”

Ya, takut. Ketakutan saat ini menggerogotiku, bahkan aku tdk bisa bersyukur dan menyemangati diri sendiri.

“Tuhan ga pernah menjanjikan kita selalu berada dlm keadaan baik. Tp Dia menjanjikan, dalam situasi apa pun, baik ataupun sulit sekalipun, Dia akan selalu ada menyertai kita.”

Siapa yg ga pernah dengar kata2 itu?
Aku sering. Bahkan menasihati org lain dgn kata2 itu jg sering. Tp dgn situasiku saat ini, ketika aku mendengar lg dr dia, aku merasa berbeda.

Ya, siapa pun bisa mengiyakan pernyataan itu di saat dia berada di situasi baik-baik saja. Tp di situasi penuh ketakutan seperti yg kurasakan saat ini, mendengar kata2 itu seolah2 menamparku utk membuka mata.

“Ayo ro, seberat apa pun masalahmu sekarang, Dia akan selalu ada menyertaimu”

Oke, aku akan belajar memahami itu Tuhan. Aku akan belajar mengingatkan diriku kalau Tuhan akan selalu menyertaiku.

Kadang aku sering bertanya pd Tuhan, kenapa Tuhan? Saat aku minta Tuhan spy aku jgn takut. Supaya aku tdk malu bertemu dgn org lain. Supaya aku berani menghadapi masalahku. Tapi anehnya, malah yg dtg adalah kejadian yg di luar perkiraanku. Bukannya semakin sedikit bertemu org lain, sebaliknya sering bertemu org yg menanyakan masalahku. Akhirnya aku takut, malu, minder lg.

“Ro, kalau kamu minta ke Tuhan spy kamu tidak malu, kira2 apa yg akan Tuhan lakukan? *Phow* semua masalah yg membuat malu akan lenyap, atau justru Tuhan mendatangkan org2 itu supaya kamu “belajar” dan “dilatih” utk tidak malu? Yg pertama atau kedua?”

…. *hening*

“Mmm… Yg kedua.” (Aku menjawab dgn malu)

Ya, aku tahu sekarang. Sebenarnya Tuhan sedang bekerja, sedang menyertaiku.

“Bayangkan saat ini kamu sedang akan berlari. Tuhan sudah siap2 berlari di samping kamu. Tapi kamu tiba2 tertunduk, merasa : aku takut, aduh gimana ini, aku ga bisa, dsb. Padahal Tuhan uda siap dgn posisinya,teriakin: ayo ro.. Ayo kita lari sama2. Tuhan teriak ayo ro.. Kamu bisa. Ini loh Aku ada, kita lari sama2.”

“Gimana kamu mau berhasil lari?”

“Kalaupun kamu akhirnya lari dan di tengah jalan berhenti atau tersandung, Tuhan yg berlari di samping kamu akan berhenti dan berbelok utk membantumu bangkit. Dia bukan penonton. Dia akan bantu kamu bangkit lagi, Ro.”

“Jadi, kamu masih ngerasa kalau Tuhan tdk menyertai kamu?”

….. *hening*

Sekarang aku sedang belajar. Ya belajar. Dan belajar tdk hanya sekarang, seumur hidup aku akan belajar tentang Tuhan. Belajar mengenal Tuhan yg menjadi Tuhan atas hidupku. Seringkali pemahaman yg “banyak” tidak benar2 kupahami setelah aku benar2 mengalaminya. Dan sekarang, aku mau mengalami “pemahaman” itu bersama Tuhan.

Ya, aku akan berlari.
Aku tidak akan tertunduk lagi.
Aku akan menatap ke depan.
Memulai lari.
Dan mengingat Dia yg berlari bersamaku.
:)

Thanks God for teaching me through him.
I know it’s all because You love me.
Teach me to be still and know You are God.
All I want is to know You and to love You more and more… I love You. :)

From the bottom of my broken heart… :'(

I don’t know how I feel now…

I’ll try to understand His will…

But sometimes It’s really hard for me to lay my dream, my hope, my heart on Him…

Sorry God, I just need a time to mend the pieces of my broken heart…

This song described me a lot…

I know so well who to think about right at this very moment when I listen to this song and while it makes me smile, it also hurts a bit. It’s incredible how I can listen to it and say “this song is definitely describe my feeling to you”. Yes, you…

Enjoy this song!

Unintended (by : Muse)

You could be my unintended
Choice to live my life extended
You could be the one I’ll always love
You could be the one who listens
To my deepest inquisitions
You could be the one I’ll always love

I’ll be there as soon as I can
But I’m busy mending broken
Pieces of the life I had before

First there was the one who challenged
All my dreams and all my balance
He could never be as good as you
You could be my unintended
Choice to live my life extended
You should be the one I’ll always love

I’ll be there as soon as I can
But I’m busy mending broken
Pieces of the life I had before

I’ll be there as soon as I can
But I’m busy mending broken
Pieces of the life I had before

Before you…

P.S. I changed the word “she” to be “he”.

Sharing yang Tertunda…

Syalom teman-teman terkasih dalam Yesus Kristus… Akhirnya saya memutuskan untuk men-sharing-kan bagian ini. Tadinya sih pengen disharingin saat RTG class sesi “The Joy of Waiting”, tapi akhirnya saya mengurungkan niat saya. Tapi anehnya, keinginan untuk sharing itu pun tetap tidak surut, ditambah ada beberapa orang yg mendukung saya untuk mensharingkan bagian ini. Okelah. Akhirnya saya memutuskan untuk menuliskannya dalam blog ini. :)

Entah kenapa saya begitu tergelitik dan terdorong untuk sharing di tema ini. Latar belakangnya salah satunya karena memperhatikan segala sesuatu opini dan komentar di salah satu jejaring sosial (mungkin beberapa teman ada yang tau). Kalau beberapa waktu yang lalu saya mengomentari publikasi atau respon untuk poster di tema The Joy of Waiting, saya tidak bermaksud apa2, hanya ingin berbagi saja, bukan menjudge satu atau beberapa pihak… Justru lewat sharing ini, saya juga semakin ditegur dan diingatkan Tuhan untuk memperbaiki diri saya agar tidak menjadi batu sandungan bagi orang lain. Nah, ga ada salahnya kan berbagi berkat Tuhan itu ke temen2 ? :)

The joy of waiting…. Entahlah, ketika saya mendengar atau membaca frase ini, hati saya terasa sangat bergetar dan terharu. Terlepas apakah saya jomblo atau pun tidak. Joy bagi saya tidak sekedar senang atau bahagia, lebih dari itu, saya merasakan ada sukacita yang besar yang terkandung di dalam kata ini. Waiting. Menanti apa? Apakah hanya menanti punya pacar? Menurut saya pribadi, sangat konyol ketika kita mengkotakkan kata menanti di sini hanya menanti punya pacar. Saya lebih prefer kalau kata menanti dikaitkan dengan menanti jawaban atau rencana Tuhan. Karna katanya ini RTG sesi cinta, mungkin bisa dikaitkan dengan penantian jawaban atau rencana Tuhan atas orang yang tepat untuk menjadi pasangan hidup kita kelak pada waktu yang tepat menurut Tuhan.

Apakah ini hanya untuk org2 jomblo? Menurut saya tidak. Apakah anak2 Tuhan yang sedang menjalani komitmen dalam pacaran tidak lagi menjadi target peserta di sesi ini? Menurut saya juga tidak. Sekalipun saya atau teman2 yang sudah pacaran sekalipun, apakah kita bisa menjamin kalau pacar kita sekarang adalah suami/istri kita nanti? Tentu saja kita tidak bisa menjamin 100%. Itu sebabnya pasangan yang sudah pacaran pun masih menantikan rencana Tuhan! Jadi, jomblo atau pun tidak, marilah kita bersukacita dalam penantian pada rencana Tuhan! The joy of waiting! :)

Nah, satu hal lagi ni yg saya ingin sharingkan. Entah kenapa fenomena ini begitu luar biasa (berdasarkan pengamatan saya selama ini), koreksi jika saya salah. Saya mengamati di luar maupun di dalam persekutuan, sepertinya menjadi seorang jomblo itu rentan menjadi bahan ledekan. Baik itu bagi angkatan muda, apalagi untuk angkatan tua yang sebentar lagi akan lulus. Seolah-olah ada gap antara kelompok pasangan yang berpacaran dengan kelompok jomblo.

“Ada yg masih jomblo? Atau sedang galau?” (biasanya yg sudah punya pacar langsung menepuk2 punggung temannya jomblo yg duduk di sebelahnya)

atau,

Kadang parahnya, seorang jomblo (katakanlah dia pria) malah dijodoh2in temannya ke temen pria yg lain! (walaupun cuma becanda)

dan banyak hal lain yang kita lakukan kurang tepat tanpa kita sadari

C’mon guys! Anak-anak Tuhan, apalagi yg notabene di dalam persekutuan, please hentikan gap itu! Jadilah dewasa baik dalam perkataan, pikiran, maupun tindakan… (ini juga menjadi bahan perenungan yg selalu mengingatkan saya untuk tetap berjuang menjadi dewasa) Buat saya atau teman2 yg sering menjadikan teman2 yg jomblo sebagai ledekan, hentikan itu mulai dari sekarang! Hal itu tidak sepatutnya menjadi bahan cercaan! Justru dukunglah teman2 kita yg mungkin saat ini masih “jomblo” untuk mereka tetap semangat menantikan jawaban Tuhan! Semangat itu skali lagi bukan untuk yg jomblo saja, tapi untuk siapa pun yg katanya sedang pacaran.

Kenapa saya begitu “sewot” dengan hal ini? Percayalah teman2… walaupun teman kita yg jomblo bisa tertawa ketika kita meledeknya, saya yakin ada luka di dalam hatinya, meskipun kecil dan hanya membuat tersinggung sedikit. Saya juga yakin ledekan itu pada akhirnya bisa merendahkan kepercayaan diri seseorang. Dia menjadi semakin dikejar2 kenyataan harus cepat punya pacar. Harus secepatnya punya pacar! Oh no! jangan sampai tindakan itu akhirnya terjadi. Kalau memang itu akhirnya terjadi, so dimana lagi the joy of waiting nya? Yang ada kita menjadi gelap mata. Tidak lagi dengan sabar menanti jawaban Tuhan, eh malah menentukan pilihan sendiri yang kadang mungkin kurang melibatkan Tuhan di dalamnya!

Banyak hal, tidak hanya soal jomblo atau punya pasangan, topik2 lain pun akan menjadi sangat sensitif ketika kita tidak “peka” dengan perasaan atau keadaan orang lain. Sadar atau tidak sadar, perkataan yang sembrono dan tidak membangun (walaupun untuk bermaksud bercanda) pada akhirnya menimbulkan kekecewaan, sakit hati, bahkan parahnya kepahitan!

Saya pun sudah ditegur Tuhan dalam hal ini. Kalau boleh sharing sedikit, dulu saya seriiiiinnng sekali mencari “korban” untuk dibecandaain (dengan tujuan mengejek atau bahan ketawaan). Tapi waktu demi waktu saya semakin diingatkan Tuhan untuk menggunakan mulut saya, bahkan perkataan saya tidak dengan sembarangan. Ketika menyadari teguran Tuhan itu, saya sangat malu, bahkan sangat bersalah pada orang2 yang pernah menjadi “korban” saya (buat temen2 yg pernah merasa jadi “korban” saya, dari hati paling dalam saya meminta maaf, dan ketahuilah saya sampai detik ini sedang belajar taat untuk menggunakan perkataan yang membangun dan memberikan semangat). Ketika “keinginan jahat” itu muncul, saya memaksa mulut saya untuk diam. Ya, diam. Kadang pepatah diam itu emas menjadi pelajaran yang baik diterapkan dalam hal ini. Dan akhirnya? Berhasil! Dengan memaksa mulut saya diam dan tidak mengatakan kata2 ejekan sedikit pun (walaupun kadang rasanya ingin sekali mengungkapkannya  ingat! Kedagingan kita tetap menggoda kita untuk jatuh dalam dosa yg sama), perlahan tapi pasti saya berhasil mengurangi kebiasaan buruk itu (ingatkan saya teman2, kalau tanpa sadar saya terjatuh lagi).

Yah, seperti itulah intinya. Tanpa sadar, sepertinya sharing saya sudah berlembar2! Hehe…

Kesimpulannya, ayolah saya mengajak kita smua menggunakan kata2 membangun di dalam persekutuan! Kalau hal itu tidak lagi ditemukan di persekutuan, gimana teman2 kita mau tertarik datang kepada Tuhan? Wong di persekutuan sama aja dengan komunitas lain? Saya harap ini bisa menjadi perenungan bagi kita smua. O iya, skali lagi ni saya ingin berpesan, “Bersukacitalah anak2 Tuhan di dalam penantian!” Saya minta maaf jika ada pihak yang tersinggung, sesungguhnya saya mensharingkan bagian ini tujuannya untuk menjadi bahan perenungan bagi kita smua, tidak hanya teman2, tetapi saya juga semakin diingatkan Tuhan. Terima kasih sudah meluangkan waktu membacanya… ^^ God bless you all!  :)

“Tuhan Allah telah memberikan kepadaku lidah seorang murid, supaya dengan perkataan aku dapat memberi semangat baru kepada orang yang letih lesu. Setiap pagi Ia mempertajam pendengaranku untuk mendengar seperti seorang murid.”

(Yesaya 50 : 4)

Blog Stats

  • 1,439 hits
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.