Sharing yang Tertunda…

Syalom teman-teman terkasih dalam Yesus Kristus… Akhirnya saya memutuskan untuk men-sharing-kan bagian ini. Tadinya sih pengen disharingin saat RTG class sesi “The Joy of Waiting”, tapi akhirnya saya mengurungkan niat saya. Tapi anehnya, keinginan untuk sharing itu pun tetap tidak surut, ditambah ada beberapa orang yg mendukung saya untuk mensharingkan bagian ini. Okelah. Akhirnya saya memutuskan untuk menuliskannya dalam blog ini.🙂

Entah kenapa saya begitu tergelitik dan terdorong untuk sharing di tema ini. Latar belakangnya salah satunya karena memperhatikan segala sesuatu opini dan komentar di salah satu jejaring sosial (mungkin beberapa teman ada yang tau). Kalau beberapa waktu yang lalu saya mengomentari publikasi atau respon untuk poster di tema The Joy of Waiting, saya tidak bermaksud apa2, hanya ingin berbagi saja, bukan menjudge satu atau beberapa pihak… Justru lewat sharing ini, saya juga semakin ditegur dan diingatkan Tuhan untuk memperbaiki diri saya agar tidak menjadi batu sandungan bagi orang lain. Nah, ga ada salahnya kan berbagi berkat Tuhan itu ke temen2 ?🙂

The joy of waiting…. Entahlah, ketika saya mendengar atau membaca frase ini, hati saya terasa sangat bergetar dan terharu. Terlepas apakah saya jomblo atau pun tidak. Joy bagi saya tidak sekedar senang atau bahagia, lebih dari itu, saya merasakan ada sukacita yang besar yang terkandung di dalam kata ini. Waiting. Menanti apa? Apakah hanya menanti punya pacar? Menurut saya pribadi, sangat konyol ketika kita mengkotakkan kata menanti di sini hanya menanti punya pacar. Saya lebih prefer kalau kata menanti dikaitkan dengan menanti jawaban atau rencana Tuhan. Karna katanya ini RTG sesi cinta, mungkin bisa dikaitkan dengan penantian jawaban atau rencana Tuhan atas orang yang tepat untuk menjadi pasangan hidup kita kelak pada waktu yang tepat menurut Tuhan.

Apakah ini hanya untuk org2 jomblo? Menurut saya tidak. Apakah anak2 Tuhan yang sedang menjalani komitmen dalam pacaran tidak lagi menjadi target peserta di sesi ini? Menurut saya juga tidak. Sekalipun saya atau teman2 yang sudah pacaran sekalipun, apakah kita bisa menjamin kalau pacar kita sekarang adalah suami/istri kita nanti? Tentu saja kita tidak bisa menjamin 100%. Itu sebabnya pasangan yang sudah pacaran pun masih menantikan rencana Tuhan! Jadi, jomblo atau pun tidak, marilah kita bersukacita dalam penantian pada rencana Tuhan! The joy of waiting!🙂

Nah, satu hal lagi ni yg saya ingin sharingkan. Entah kenapa fenomena ini begitu luar biasa (berdasarkan pengamatan saya selama ini), koreksi jika saya salah. Saya mengamati di luar maupun di dalam persekutuan, sepertinya menjadi seorang jomblo itu rentan menjadi bahan ledekan. Baik itu bagi angkatan muda, apalagi untuk angkatan tua yang sebentar lagi akan lulus. Seolah-olah ada gap antara kelompok pasangan yang berpacaran dengan kelompok jomblo.

“Ada yg masih jomblo? Atau sedang galau?” (biasanya yg sudah punya pacar langsung menepuk2 punggung temannya jomblo yg duduk di sebelahnya)

atau,

Kadang parahnya, seorang jomblo (katakanlah dia pria) malah dijodoh2in temannya ke temen pria yg lain! (walaupun cuma becanda)

dan banyak hal lain yang kita lakukan kurang tepat tanpa kita sadari

C’mon guys! Anak-anak Tuhan, apalagi yg notabene di dalam persekutuan, please hentikan gap itu! Jadilah dewasa baik dalam perkataan, pikiran, maupun tindakan… (ini juga menjadi bahan perenungan yg selalu mengingatkan saya untuk tetap berjuang menjadi dewasa) Buat saya atau teman2 yg sering menjadikan teman2 yg jomblo sebagai ledekan, hentikan itu mulai dari sekarang! Hal itu tidak sepatutnya menjadi bahan cercaan! Justru dukunglah teman2 kita yg mungkin saat ini masih “jomblo” untuk mereka tetap semangat menantikan jawaban Tuhan! Semangat itu skali lagi bukan untuk yg jomblo saja, tapi untuk siapa pun yg katanya sedang pacaran.

Kenapa saya begitu “sewot” dengan hal ini? Percayalah teman2… walaupun teman kita yg jomblo bisa tertawa ketika kita meledeknya, saya yakin ada luka di dalam hatinya, meskipun kecil dan hanya membuat tersinggung sedikit. Saya juga yakin ledekan itu pada akhirnya bisa merendahkan kepercayaan diri seseorang. Dia menjadi semakin dikejar2 kenyataan harus cepat punya pacar. Harus secepatnya punya pacar! Oh no! jangan sampai tindakan itu akhirnya terjadi. Kalau memang itu akhirnya terjadi, so dimana lagi the joy of waiting nya? Yang ada kita menjadi gelap mata. Tidak lagi dengan sabar menanti jawaban Tuhan, eh malah menentukan pilihan sendiri yang kadang mungkin kurang melibatkan Tuhan di dalamnya!

Banyak hal, tidak hanya soal jomblo atau punya pasangan, topik2 lain pun akan menjadi sangat sensitif ketika kita tidak “peka” dengan perasaan atau keadaan orang lain. Sadar atau tidak sadar, perkataan yang sembrono dan tidak membangun (walaupun untuk bermaksud bercanda) pada akhirnya menimbulkan kekecewaan, sakit hati, bahkan parahnya kepahitan!

Saya pun sudah ditegur Tuhan dalam hal ini. Kalau boleh sharing sedikit, dulu saya seriiiiinnng sekali mencari “korban” untuk dibecandaain (dengan tujuan mengejek atau bahan ketawaan). Tapi waktu demi waktu saya semakin diingatkan Tuhan untuk menggunakan mulut saya, bahkan perkataan saya tidak dengan sembarangan. Ketika menyadari teguran Tuhan itu, saya sangat malu, bahkan sangat bersalah pada orang2 yang pernah menjadi “korban” saya (buat temen2 yg pernah merasa jadi “korban” saya, dari hati paling dalam saya meminta maaf, dan ketahuilah saya sampai detik ini sedang belajar taat untuk menggunakan perkataan yang membangun dan memberikan semangat). Ketika “keinginan jahat” itu muncul, saya memaksa mulut saya untuk diam. Ya, diam. Kadang pepatah diam itu emas menjadi pelajaran yang baik diterapkan dalam hal ini. Dan akhirnya? Berhasil! Dengan memaksa mulut saya diam dan tidak mengatakan kata2 ejekan sedikit pun (walaupun kadang rasanya ingin sekali mengungkapkannya  ingat! Kedagingan kita tetap menggoda kita untuk jatuh dalam dosa yg sama), perlahan tapi pasti saya berhasil mengurangi kebiasaan buruk itu (ingatkan saya teman2, kalau tanpa sadar saya terjatuh lagi).

Yah, seperti itulah intinya. Tanpa sadar, sepertinya sharing saya sudah berlembar2! Hehe…

Kesimpulannya, ayolah saya mengajak kita smua menggunakan kata2 membangun di dalam persekutuan! Kalau hal itu tidak lagi ditemukan di persekutuan, gimana teman2 kita mau tertarik datang kepada Tuhan? Wong di persekutuan sama aja dengan komunitas lain? Saya harap ini bisa menjadi perenungan bagi kita smua. O iya, skali lagi ni saya ingin berpesan, “Bersukacitalah anak2 Tuhan di dalam penantian!” Saya minta maaf jika ada pihak yang tersinggung, sesungguhnya saya mensharingkan bagian ini tujuannya untuk menjadi bahan perenungan bagi kita smua, tidak hanya teman2, tetapi saya juga semakin diingatkan Tuhan. Terima kasih sudah meluangkan waktu membacanya… ^^ God bless you all! 🙂

“Tuhan Allah telah memberikan kepadaku lidah seorang murid, supaya dengan perkataan aku dapat memberi semangat baru kepada orang yang letih lesu. Setiap pagi Ia mempertajam pendengaranku untuk mendengar seperti seorang murid.”

(Yesaya 50 : 4)

2 Comments (+add yours?)

  1. andy
    Apr 03, 2011 @ 06:28:31

    maknus sharingnya..
    tambah lagi donk..

    Reply

  2. renath
    Apr 06, 2011 @ 00:52:36

    waaah kau harus jadi pembicara RTG lo…..

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog Stats

  • 2,025 hits
%d bloggers like this: